Menjaga Pancasila, Merajut Kebhinekaan

Pancasila memang benar-benar sudah menjadi dasar ideologis bangsa. Pancasila tidak pernah menjelaskan adanya perbedaan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Justru pancasila yang menjembatani kita semua dalam keberagaman yang ada di Indonesia ini. Selain itu, nasionalisme sering kali

72 Tahun Kerja Bersama

Agustus adalah bulan bersejarah bagi negeri ini. Penderitaan, rakyat, tangisan anak kecil, ledakan bom, tembakan meriam, dan jutaan peluru yang menembus jantung para pejuang kala itu terhenti. Pekikan kalimat ‘merdeka’tak asing, terdengar di seluruh pelosok negeri. Pemuda-pemudi

Saya Indonesia, Saya Pancasila!

NEGARA Indonesia diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sehari kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945, para pendiri negara menetapkan UUD 1945 yang di dalamnya, pada Pembukaan UUD alinea

Kebangsaan dan Kedaulatan

KETIKA bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional, saatnya menggali kembali api ruhani kebangsaan. Para pejuang kemerdekaan ratusan tahun berkorban secara bersama-sama demi bebas dari penjajahan dan hadirnya sebuah negara bernama Indonesia. Apapun agama, suku, daerah, ras, dan

Antara Kaum Nasionalis & Nahdliyin.

Diamnya kaum Nasionalis Sukarnois menghadapi gempuran-gempuran terhadap NKRI baik dari kelompok pengusung Negara Khilafah maupun berbagai kelompok sekuler lain yang ingin memecah belah negara dan bangsa, menimbulkan banyak pertanyaan dan tampak sangat aneh. Kaum Nasionalis Sukarnois seolah-olah

Mimpi dari Papua

Di tengah riuhnya pertarungan A3 (Anies, Ahok, dan Agus) untuk “DKI 1”, ada juga yang gelisah memperjuangkan hak minimal mereka untuk dapat mengeyam pendidikan di tempat lain. Ada beberapa anak muda yang masih gelisah mempertanyakan kapan mimpinya