Renungan Peringatan Hari Kebangkitan Nasional

urlKetika itu 107 tahun yang telah lalu di awal Abad ke-20 tepatnya di tanggal 20 Mei 1908 di depan sekelompok mahasiswa School tof Opleiding van Indische Aartsen (STOVIA/Sekolah Dokter India) Dokter Wahidin Soedirohoesodo menyampaikan usaha-usaha beasiswa (studiefonds) yang telah dilakukan bagi pelajar dan mahasiswa bumiputera. Sutomo, salah seorang mahasiswa yang hadir ketika itu, berkomentar dalam bahasa Jawa … puniko budi ingkang utami…. (hal itu merupakan upaya yang mulia). Pertemuan itulah sebagai tonggak berdirinya suatu Organisasi pergerakan Nasional memakai nama Budi Utomo, dengan Sutomo dipilih sebagai ketuanya.

Budi Utomo merupakan organisasi pergerakan pertama yang bercorak modern. sebuah organisasi yang jelas, tujuan organisasi, pergantian pimpinan, dan dukungan masa yang jelas. yang ditandai dengan adanya Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Organisasi pergerakan yang tidak menggunakan senjata dalam menghadapi pemerintah Kolonial Belanda.

Budi Utomo sebagai organisasi orang-orang terpelajar menitikberatkan perjuangan pada kesadaran sebagai bangsa Indonesia yang menjujung tinggi derajat kehidupan dengan menggunakan sarana pendidikan dan tuntutan kesetaraan serta kesejahteraan dalam mencukupi hidup Hal ini mengingat Regering Reglement (Peraturan Pemerintah) pasal 11 pada waktu itu yang melarang semua kegiatan bumiputera bercorak politik. Dalam sejarah gerakan tersebut disebut sebagai generasi pelopor kemerdekaan, yang menuntut perubahan masyarakat dari tidak berpendidikan menjadi berpendidikan dengan berorganisasi modern, yang kemudian dikenal dengan kebangkitan nasional.

Merupakan sebuah keberuntungan bagi bangsa Indonesia bahwa sebagai cikal bakal kebangkitan nasional adalah masalah tuntutan perubahan pendidikan guna menggapai kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian betapa luhurnya nilai-nilai kebangkitan nasional tersebut bagi bangsa Indonesia. Seyogyanya momentum peringatan hari Kebangkitan Nasional saat ini dapat direalisasikan sehari-hari dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kalau dihitung dalam hitungan tahun kebangkitan nasional itu karena cengkeraman Kompeni Belanda di Indonesia itu sejak tahun 1602 sampai tahun 1908; maka ketertiduran bangsa Indonesia hampir selama 302 tahun. Terbangkit karena ingin berubah menjadi lebih berpendidikan, yang nantinya menjadi inti dari pergumulan kekuatan nasional dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Kondisi inipun juga karena proses dari kondisi sebelumnya; yaitu akibat Perang Diponegoro, kas Kompeni Belanda kosong; maka untuk segera dapat mengisi kas tersebut pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan dengan kerja rodi dan tanam paksa. Melihat penderitaan yang demikian berat, maka oleh pemerintah kolonial mengeluarkan kebijakan dengan politik balas budi. Balas budi dari pemerintah kolonial Belanda sebenarnya juga tidak lepas dari kepentingannya; diantaranya dengan pendidikan diharapkan dapat untuk memenuhi tenaga terdidik di perusahaan Belanda yang dapat digaji murah.

Belajar dari kearifan local terkait pendidikan; tidak mengherankan masyarakat menyambutnya dengan antusias. Disadari atau tidak hasil dari pendidikan bagi masyarakat Indonesia sangat luar biasa terutama membuat kesadaran bahwa kita adalah bangsa Indonesia yang masih dijajah Belanda, perlu pinter untuk menjadi bersatu dan kuat sehingga mampu mengusir penjajah. Akan tetapi karena adanya pembatasan-pembatasan dari pemerintah kolonial Belanda hanya bagi keluarga priyayi yang diperbolehkan sekolah, maka buta huruf pun masih mendominasi masyarakat ketika itu.

Sekarang pembatasan-pembatasan sudah tidak ada lagi, hampir 70 tahun kemerdekaan kita peroleh. Dari generasi ’08 sampai saat sekarang dampak kesadaran dari hasil pendidikan tersebut secara bertahap bangsa Indonesia berkembang ke generasi berikutnya dengan hasil sesuai jiwa jamannya. Para orang tua dulu mengajarkan bahwa kaum itu ada masanya, dan masa itu ada kaumnya. Oleh karena itu perlu dicermati perkembangan generasi paska Kebangkitan Nasional diantaranya:

Generasi ’28 juga disebut sebagai generasi perintis kemerdekaan, menuntut perubahan dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka dengan cara berpolitik dan mengokohkan persatuan dan kesatuan ; sebagai tonggaknya adalah ikrar sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Generasi ’45 disebut sebagai generasi pendobrak kemerdekaan, mereka mampu mengadakan perubahan secara signifikan dari terjajah menjadi bangsa yang merdeka dengan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Generasi ’66 disebut sebagai generasi pengamanan Pancasila dengan perubahan dari kehidupan yang bernuansa tidak baik menjadi kehidupan yang Pancasilais dengan tekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen.

Generasi ’98 disebut sebagai generasi penegakkan demokrasi; menghendaki perubahan dari kehidupan otoriter menjadi demokrasi atau kehidupan yang demokratis, sejahtera dan menjanjikan.

Di jaman sekarang dalam era globalisasi, dan transformasi menjadikan semua semakin rumit, sulit, dan kompleksnya permasalahan kehidupan akibat pengaruh dan dampak lingkungan baik dari dalam dan luar negeri, membuat setiap orang senantiasa menjadi semakin kompetitif dalam menjaga keberadaannya. Tidak jarang kompetisi yang terjadi karena akibat dari menonjolnya individualisme, egosentris, dan kelompok; maka jeratan orientasi kepentingan yang sempit, semakin memperdaya pribadi dan kelompok jauh dari kepentingan yang lebih besar dalam berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu tidak dipungkiri sebagian masyarakat menjadi: seakan terkotak-kotak, jarak antara yang si kaya dengan si miskin menjadi semakin lebar; penyakit sosial menjangkit dimana-mana, kehidupan seakan menjadi tidak menentu, dstnya.

Timbul pertanyaan kemana kebangkitan nasional yang sudah bersemi 107 tahun yang lalu itu? Barangkali masyarakat Indonesia semua perlu dibangkitkan lagi jiwa nasionalismenya; agar kesadarannya dan akal sehatnya pulih kembali; dengan kata lain bagus mentalnya sehingga kehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kembali menjadi harmonis, seimbang, selaras dan indah.

Sebagai renungan akibat dari rusaknya kesadaran masyarakat dalam berbangsa dan bernegara maka masih akrab terjadi diantara kita kejadian yang sangatlah ironis, ada sebagian orang untuk makan sehari sekali dengan harga murah saja sulit, sementara yang lainnya membuang-buang sisa makanan dengan harga mahal; sebagian orang menangis sakit tidak bisa menebus obat generik yang harganya murah karena saking miskinnya, sementara yang lain bolak-balik ke luar negeri untuk berobat; dstnya. Bahkan tidak jarang ada yang dengan sadar bertindak korupsi, merampas hak-hak orang lain, mencuri, mengambil kepunyaan orang lain, dst. Anehnya yang bersangkutan nampak dari luar sebagai orang taat beragama, dermawan, aktif sebagai sosialita, bahkan ada yang sampai bagi-bagi mobil kepada para artis tanpa alasan yang jelas.

Yang semuanya itu dapat mencederai perasaan bagi si lemah, si miskin, si kecil, rakyat jelata-mereka yang kurang beruntung. Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya kesadaran kita bahwa sebagian masyarakat kita masih banyak yang kurang beruntung. Untuk itu seyogyanya menjadi keprihatinan dari semua pihak.

Usaha yang segera dapat diaplikasikan adalah melalui instrospeksi dan mawasdiri. Agar hikmah dari peringatan kebangkitan nasional tersebut dapat menguatkan kesadaran dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang terindikasi dari kuatnya mental masyarakat Indonesia. Hal ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak, melihat bahwa akhir-akhir ini hampir semua warga baik dari level bawah sampai pimpinan hilang kesadarannya yang terjadi adalah degradasi mental dengan indikasi banyaknya tindak: korupsi, kejahatan, dan penyimpangan-penyimpangan di tengah-tengah kehidupan keseharian kita. Dengan melihat kondisi yang ada, seyogyanya semua masyarakat terbangkitkan kesadaran nasionalnya dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara sehingga hidup aman sejahtera, adil makmur, damai dan tenteram dapat menjadi keseharian kita.

Hadi Iskandar, S.Sos, Peneliti Muda dan Pengkaji Masalah Hukum di Sinergi Bangsa.

One Response
  1. Anton S

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *