Satu : Bangsaku, Bangsamu dan Bangsa Kita

Secara geogafis, Indonesia  dapat dikatakan negara besar karena memiliki ribuan pulau yang terbentang luas diiringi jumlah penduduk yang selalu bertambah. Namun, hal tersebut bukan satu-satunya tolok ukur dalam memandang suatu bangsa. Beberapa aspek kehidupan lain seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, agama dan lainnya yang menjadi bagian dari wawasan kebangsaan turut menentukan seberapa besar bangsa itu.

Seiring perjalanan waktu, disintegrasi wawasan kebangsaan tersebut memudar sehingga menyebabkan konflik di berbagai lini dan wilayah yang memicu perpecahan bangsa kerap terjadi. Disinilah tampak peranan wawasan kebangsaan dalam menumbuhkembangkan cita-cita negara yang menamai dirinya sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lalu, bagaimana pula menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan tersebut?

Berbagai Aspek Kehidupan Berbangsa
“Seorang anak kecil pun, jikalau ia melihat peta dunia, ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan. Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau diantara 2 lautan yang besar; Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua, yaitu Benua Asia dan benua Autralia. Seorang anak kecil dapat mengatakan, bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan.”

Pernyataan diatas pernah dinyatakan Bung Karno dalam pidatonya pada Juni 1945. Pernyataan tersebut sebagai salah satu contoh pernyataan yang berlandas pada aspek geografis atau paham geopolitik yang dianut Indonesia, meskipun menurut Moh. Hatta bahwa sulit menentukan kriteria apa yang dikatakan bangsa. Pidato Bung Karno atau perhatian Hatta mengenai wawasan kebangsaan ini merupakan bagian penting dari konstruksi elit politik terhadap bangunan citra (image) bangsa Indonesia. Apa pun perbedaan pandangan elit tersebut, telah membentuk kerangka berpikir masyarakat tentang wawasan kebangsaan. Lantas, bagaimana pula pandangan para elit yang dimiliki bangsa kini?

Ideologi Pancasila sebenarnya telah mencakup aspek-aspek lain. Demikian seperti yang telah diakui bersama bahwa politik Indonesia menganut sistem Demokrasi Pancasila, termasuk di dalamnya aspek hukum.  Sistem Ekonomi yang ada terletak di antara ekonomi Kapitalis di selatan dan Sosialis di utara. Kemudian, masyarakat Indonesia terletak di antara masyarakat individualisme di selatan dan masyarakat sosialisme di utara, jika dilihat dari kehidupan sosialnya.

Sementara itu, Indonesia memiliki budaya Barat yang terletak di selatan dan budaya Timur di utara. Sedangkan wawasan kekuatan maritim di selatan dan wawasan kekuatan kontinental di utara menjadi bagian dari pertahanan dan keamanan di Indonesia. Dan, yang terpenting adalah nilai luhur yang ada pada agama-agama yang mendorong manusia untuk selalu melakukan perbaikan, bukan kerusakan dan perpecahan. Serta, aspek-aspek lain yang membutuhkan perhatian.

Disamping beberapa aspek kehidupan yang harus dipandang dengan rasa persatuan dan kebersamaan dalam berkehidupan berkebangsaan Indonesia, terdapat dua aspek yang perlu diketahui dalam menerapkan konsep wawasan kebangsaan. Yaitu aspek moral dan aspek intelektual. Kedua aspek ini secara bersama mensyaratkan adanya perjanjian diri (commitment) pada seseorang atau masyarakat untuk turut bekerja bagi kelanjutan eksistensi bangsa dan bagi peningkatan kualitas kehidupan bangsa. Selain itu, menghendaki pengetahuan yang memadai mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa serta potensi-potensi yang dimiliki bangsa.

Peranan Wawasan Kebangsaan
Sebagaimana yang telah penulis kemukakan bahwa dalam menjalani aspek kehidupan berbangsa harus didasari dengan wawasan kebangsaan yang benar. Mengapa? Karena beberapa peran urgennya dalam menumbuhkembangkan dan mencapai keutuhan cita-cita bangsa.

Yang pertama, wawasan kebangsaan berperan dalam menekankan adanya pengetahuan mendalam tentang identitas nasional untuk menjelaskan ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri yang melekat dengan warga negara yang diikat oleh kesamaan fisik (seperti budaya, agama, dan bahasa) atau non-fisik (seperti keinginan, cita-cita dan tujuan). Hal ini berkaitan dengan usaha warga negara untuk bersatu.

Kedua, berperan sebagai identitas isi pembangunan yang sedang dilaksanakan. Dengan wawasan kebangsaan ini, ciri utama ke-Indonesiaan menjadi garis tebal kebijakan dan arah orientasi pembangunan ke depan demi tercapainya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera sesuai dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945.

Kemudian, ketiga, berperan dalam menentukan bagaimana bangsa Indonesia menempatkan dirinya dalam tata cara berinteraksi dengan sesama bangsanya serta dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia internasional. Hubungan interaksi yang baik akan menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas sehingga setiap permasalahan dapat dipecahkan dengan asas kekeluargaan demi mencapai perdamaian. Dan, lain-lain.

Keseluruhan peran tersebut seyogyanya dapat teraplikasi oleh para komponen pemerintah termasuk pejabat, instansi negeri maupun swasta, organisasi masyarakat dan masyarakat seluruhnya. Lalu, yang menjadi persoalan adalah bagaimana agar peranan tersebut dapat terlaksana?

Upaya Menumbuhkembangkan Wawasan Kebangsaan
“Atas Berkat Rohmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Petikan di atas merupakan ungkapan dari cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia yang termaktub di dalam pembukaan UUD 1945. Pernyataan ini berkali-kali didengungkan ke telinga atau di baca oleh setiap warga negara Indonesia. Hanya saja implikasinya tidak terasa secara menyeluruh untuk segenap bangsa Indonesia. Upaya sadar diperlukan untuk menumbuhkembangan wawasan kebangsaan dalam rangka menumbuhkembangkan cita-cita luhur tersebut.

Upaya pertama yakni melakukan sosialisasi terhadap berbagai lapisan masyarakat yang bisa dilakukan oleh praktisi berbagai bidang terutama praktisi pendidikan seperti guru dan dosen. Sosialisasi dapat dilaksanakan pada saat pengajaran di sekolah, acara seminar, loka karya atau sarasehan dengan menghadirkan nara sumber yang proporsional dalam memahami wawasan kebangsaan yang luas. Selain guru, organisasi masyarakat seperti LSM, para aktivis pers atau penggiat seni dan budaya serta komponen lainnya juga dapat turut menyosialisasikan wawasan kebangsaan ini.

Yang terpenting adalah komitmen untuk mengimpelementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Warga negara yang telah memiliki wawasan kebangsaan tersebut harus menularkannya kepada warga lain dan berusaha untuk tidak memicu konflik apa pun. Berharap dan bermimpi juga merupakan upaya. Semoga terlaksana.

Salam Perjuangan!

Edo J Ace, Mahasiswa Universitas Semarang

4 Comments
  1. Moh Tamimi
  2. admin
  3. Moh Tamimi
  4. admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *