Seminar Internasional; Jamu dan Kedaulatan Kesehatan Bangsa

Diskursus tentang Jamu kembali mengemukan dalam Seminar Internasional bertema “Cerita di Balik Jamu” Perempuan dalam Sektor Informal Pengobatan Tradisional yang diselenggarakan oleh University of Ottawa, Canada, University of New Brunswick, Canada, dan Insitute for Research on Contemporary South-East Asia bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada tanggal 7-8 Juli 2015 di Auditorium Poerbatjaraka. Ada fenomena menarik terkait perkembangan pengobatan tradisional atau industri jamu mulai berkembang pesat di dunia khususnya di kawasan Asia tetapi sedikit sekali orang yang meneliti tentang peran perempuan dalam industri jamu. Hasil penelitian yang dilakukan sejak bulan Juni hingga Agustus 2013 mencoba untuk melihat praktek perjamuan pada masa kini dan bagaimana dampak sosial terkait praktek perjamuan yang dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Penelitian ini mengambil sample dari pedagang jamu yang berjualan di pinggir jalan (trotoar), penjual jamu keliling dengan bersepeda, dan industri jamu, serta jasa pelayanan kesehatan atau SPA yang menggunakan bahan-bahan alamiah (herbal). Para peneliti yang terlibat dalam penelitian jamu dan bahan-bahan alami pengobatan tradisional antara lain Julie Laplante dari University of Ottawa, Canada, Jean-Marc De Grave dari Institite for Research on Contemporary South-East Asia, Maria Costanza Torri dari University of New Brunswick, Canada, dan Carolyn Rund Szuter dari University of New Brunswick, Canada.

IMG_4410

Julie mengungkapkan bahwa ia pernah melakukan berbagai penelitian tentang tanaman obat di beberapa negara seperti di Amazon, Brazil selama 14 tahun yang memfokuskan pada bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tanaman obat di amazon, kemudian dilanjutkan penelitian di Afrika Selatan yang memfokuskan tentang bagaimana proses tanaman obat menjadi industri farmasi selama 6 tahun. Selama di Afrika Selatan Julie memotret tentang relasi manusia dan tanaman obat dalam konteks penyembuhan non-klinis, penggunaan tanaman obat dalam proses ritual, dan melihat bagaimana relasi penyembuh dengan obat-obatan alamiah. Selama 22 tahun Julie telah mempelajari proses penyembuhan non-klinis dengan bahan-bahan alamiah secara garis besar penelitian Julie bertitik tolak pada bagaimana pergerakan, perkembangan, proses dan cara terkait proses penyembuhan melalui ramuan jamu.

Dalam penelitian kali ini, Julie memfokuskan tentang pertama, dokumentasi dan merekam tangan si pembuat jamu sebagai identitas dan ciri khas jamu tradisional yang memiliki warna yang berbeda. Kedua, penelitian ini juga memfokuskan tentang interaksi hidup antara manusia dan tanaman yang ada melalui proses pengolahan alami yang berbeda dengan industri.

Ibu Tentrem (58th), penjual jamu mengemukakan bahwa ia belajar menjadi penjual jamu dari mbakyu (kakaknya) sejak tahun 2006, sebelumnya bu Tentrem menjadi penjual makanan ringan di pasar kemudian sejak itu ia mencoba untuk berjualan di Banguntapan. Akhirnya ia mulai mengenal jamu sejak itu dan banyak pelanggan yang datang ke bu tentrem. Harga jamu berkisar Rp.5000- Rp.10.000 (tergantung jenis ramuannya). Pada umumnya para pelanggan berasal dari berbagai kalangan dari yang muda hingga tua, imbuhnya. Jamu pada dasarnya menjadi potensi dan peluang yang menjanjikan dalam membangun kedaulatan kesehatan bangsa Indonesia karena di dalam tanaman alamiah yang digunakan sebagai bahan baku jamu tradisional memiliki dampak yang signifikan dalam menjaga dan mencegah berbagai penyakit modern. Kedaulatan kesehatan bangsa perlu mempertimbangkan jamu sebagai upaya untuk melakukan pembiasaan dan pemasyarakatan jamu.

Carolyn Rund Szuter, memaparkan presentasinya terkait dengan apa saja yang memotivasi para perempuan dalam perdagangan jamu di Yogyakarta. Studi ini dilakukan pada 30 orang terdiri 28 perempuan dan 2 orang pria penjual jamu melalui wawancara. Selain itu juga melakukan wawancara 4 informan kunci yang sudah dilakukan persetujuan. Wawancara ini dilakukan menggunakan audio yang direkam dari bahasa jawa, kemudian bahasa Indonesia dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Hasil transkrip ini menggunakan teori grounded yang sudah diterapkan di lapangan. Motivasi non-ekonomi ialah keluasaan dalam mengatur waktu, memperluas jaringan sosial, menyediakan produk yang dapat membantu orang lain dan melestarikan budaya Jawa. 5 dari 30 responden mengatakan keluasaan waktu menjadi alasan menjadi penjual jamu. 10 orang lainnya keinginan menjadi istri yang baik. 10 penjual mengatakan bahwa menjual jamu karena ingin membangun hubungan dengan pelanggan ini membuat jaringan sosial dan status sosial. Dengan membangun relasi yang kuat para penjual jamu dapat menandai mana pelanggan baru dan mana pelanggan lama. 12 responden menyatakan motivasi mereka menjual jamu ingin memberikan produk yang dapat memberikan kesehatan. 7 orang responden mengatakan bahwa sebagai penjual jamu ingin melestarikan tradisi jawa. 5 responden lainnya ialah ingin menyokong keluarga dan yang lainnya melanjutkan usaha orang tua yang sudah diwariskan. Maria Costanza Torri membuat pertanyaan riset terkait tantangan menjual jamu. Metodologi wawancara penjual jamu di area Jogjakarta. Jumlah peserta yang diwawancarai ialah 89 orang. Mengadakan FGD terhadap asosiasi penjual jamu.

3 Comments
  1. Maulida
  2. vonie11
  3. marselianadwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *